19 Oktober 2008

'Benteng Vredeburg'

Di kota Jogja-Benteng Vredeburg dibangun di depan Gedung Agung. Benteng itu memiliki fungsi untuk mengawasi semua kegiatan yang ada di dalam Gedung Agung. Dahulu, waktu itu yang mengawasi adalah orang2 bule.
Bila 'Gedung Agung' kita analogikan sebagai hati manusia. Maka '
Benteng Vredeburg' adalah analogi dari IMAN kita. Sedangkan orang2 bule yang selalu mengawasi ke arah 'Gedung Agung' adalah gambaran dari utusan2 TUHAN. Maka hati manusia adalah sebuah organ yang menentukan baik atau buruknya perilaku anggota jasmani tubuh yang lain. Baik atau buruknya jasmani setiap insan dikontrol oleh segumpal daging yang berfungsi seperti benteng, yaitu HATI. Hanya HATI lah yang dapat menyebabkan setiap insan dapat kembali ke haribaan Ilahi Robbi sesuai konsep yang telah diaturNYA. Nah,...sudahkah di hati kita memiliki 'Benteng Vredeburg' ?

16 Oktober 2008

Topo Ngrame Ngudi Karaharjan

Bertapa (Jawa:Topo) biasanya diidentikkan dengan sesuatu hal yang berbau kesunyian, kesepian, keheningan, ketemaraman, laku prihatin, dll. Semua kesuksesan, kebahagiaan, kenikmatan selalu diawali terlebih dahulu dengan hal-hal yang berbau prihatin. Saya jadi teringat tentang sindiran yang begitu mengena tentang kondisi saat ini yaitu, Wong saiki kuat POTO nanging ora kuat TOPO, saat ini orang-orang hanya kuat/bisa bersumpah (di mulut) saja, tetapi tidak kuat bertapa (prihatin). Bagaimana kita bisa bersikap topo di dalam (batiniah, spiritual kita) tetapi rame ing njaba (mobilitas tinggi untuk jasmani kita). Filosofi 'topo iku panggone ing njero dodo nanging rame ing njobo' perlu diejawantahkan dalam kehidupan yang penuh dengan kepura-puraan, kepalsuan seperti sekarang. Bertapa di jaman modern seperti sekarang ini memiliki pengertian selalu dan selalu mencari pemikiran inovatif yang bermanfaat. Bukan terpancang pada pemikiran untuk menyepikan diri di hutan, hidup dalam goa seumur hidup, tidak makan n tidak minum selama sekian hari, dll. Itu mungkin paradigma lama yang masih di anut oleh saudara-saudara kita. Itu hak mereka. Jangan salahkan mereka. Tapi kalau kita sudah tahu apa hakekat kita diturunkan ke muka bumi ini, untuk apa kita ada, apa yang kita bawa nanti, maka kita akan hati-hati dalam setiap langkah yang kita ambil di panggung kehidupan ini. Di tengah kemajuan & kemodernan jaman seperti saat ini tinggal bagaimana mengubah sikap hidup kita.
Sudah bukan saatnya kita sering berpura-pura di 'luar'. Karena kita tidak akan pernah bisa menipu apa yang ada 'di dalam', di hati sanubari kita. Ayolah kita berdamai dengan diri ini. Mari kita jujur dengan pribadi terdalam. Ingat Tuhan tidak melihat sisi luar kita. Sisi Dalam diri kita-lah yang diperhatikan Tuhan.

Waiting For 'WANGSIT'

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Apalagi menunggu ketidakpastian. Tapi akan beda ceritanya apabila kita menunggu sesuatu hal menyenangkan hati kita. 'Wangsit' (bukan..... 'Pangsit' loh) adalah idiom dalam bahasa Jawa yang memiliki makna pada tataran spiritual. Wangsit biasanya bersifat 'mencerahkan', 'membangunkan', 'menggugah', bagi yang menerimanya. Wangsit pada umumnya diterima oleh individu2 yang memiliki kepekaan batin luar biasa. Individu2 seperti itu biasanya memiliki kedekatan dengan Yang Maha Pencipta-Tuhan Seru Sekalian Alam. Berwatak wise (bijak), sikap mental yang seimbang dan mengayomi semua mahkluk kehidupan. Dan sesuatu yang spiritual tidak mudah/bisa ditangkap oleh panca indera. Tapi bisa dirasakan dengan indera 'yang lain'. Kalau jasmani memiliki perlengkapan 'panca indera' yang peka maka rohani kita juga memiliki indera yang juga peka, asal diasah dan sering digunakan. Lalu mengapa indera rohani kita tumpul? Hal ini dikarenakan setiap hari fokus pikiran dan fokus hati ini terlalu disibukkan dgn sesuatu yang bersifat jasmaniah melulu. Terkadang kita lupa untuk mengolah sisi-sisi spiritual yang ternyata dapat membawa perubahan besar bagi kehidupan kita. Mari kita seimbangkan sisi jasmani dan rohani yang diberikan Tuhan ini dengan bijak. Selamat menerima 'Wangsit' yang mencerahkan dan menggugah sisi kemanusiaan kita !

Enlightment for Mommy

Ketika kehidupan semakin menyesakkan dada, ada celah dalam hati yang perlu diisi dengan hal-hal yang menyejukkan. Kesejukkan membuat yang panas jadi tidak seberapa panas. Di foto, ketika aku diminta sekelompok ibu2 untuk mencoba mengisikan hal-hal yang 'dingin'-yang 'sejuk' ke dalam relung hati ibu2 yang hatinya terkadang sudah disesakkan oleh hal-hal yang panas dan membuat gerah sudut pandang kehidupannya. Kesejukkanlah yang membuat kehidupan ini akan lebih dinikmati dibandingkan 'kekerasan', 'kemarahan', kebencian, ke-egoisan, dll. Semoga apa yang kami perbuat dapat membawa keberkahan. Amin!